Tuesday, 31 May 2011

Sayu....

Setelah berbulan lamanya berada di kampun orang, akhirnya sampai ke “kampung halaman” tentunya di SABAH. Rindu teramat dengan suasana kampung. Merindui yang tercinta di hati, yang sentiasa berada d ruang hati dan fikiran akhirnya bertemu.

Setelah 2hari berada di rumah sendiri kata orang “home sweet home”. Tersangatlah happy di samping insan-insan yang tersayang. Namun kegembiraan itu tercuit rasa rindu dengan arwah. Andai arwah masih hidup dialah insan yang cukup gembira dengan kehadiran qu di rumah ini.

Teringat 2hari yang lepas. Melangkah kaki, menggerakkan bibir, mendogakkan muka melihat beranda rumah tesangatlah payah, hati cukup kencang berdegup, rindu, sayu, kecewa. Aq dengan rasa tidak kuat untuk dugaan itu, akhirnya aq memeluk kakak qu sambil berkata “ndak kuat dengan cubaan nie kak”.

Bicara seorang kakak kepada adiknya “sabarlah deq, redha dengan pemergian mak, lau mak tengok macam nie mesti mak nangis gak tu”. Melihat  raut wajah bapa qu yang sedang melihat qu menangis bertambah lagi kesedihan di hati ini. “ya ALLAH perkuatkanlah hambamu dengan cubaan ini”. Melangkah masuk ke dalam rumah aq merasakan cukup kekurangan.

           Dahulunya aq melihat penantian seorang mak berada di beranda rumah menunggu kepulangan anaknya dan menerima peluk cium dari insan ini, kali cukup menduga hati kerana itu tidak akan terulang kembali.
            
         Hati siapa yang tidak menitiskan airmata kekecewaan setelah insan yang cukup istimewa di hati tidak berada disampingnya untuk selama-lamanya…sekarang nie masih mencuba untuk redha dan sabar tanpa insan teristimewa di hati..

           Jom layan lagu HIJJAZ " BELAIAN IBU "

Entry ke-8 Sayunya di hati ini...

Wednesday, 25 May 2011

KISAH SEBATANG POHON BAMBU

hamba ALLAH

Sebatang bambu yang indah tumbuh di halaman rumah seorang petani. Batang bambu ini tumbuh tinggi menjulang di antara batang-batang bambu lainnya. Suatu hari datanglah sang petani yang empunya pohon bambu itu. Dia berkata kepada batang bambu," Wahai bambu, maukah engkau kupakai untuk menjadi pipa saluran air, yang sangat berguna untuk mengairi sawahku?"

Batang bambu menjawabnya, "Oh tentu aku mau bila dapat berguna bagi engkau, Tuan. Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi pipa saluran air itu."

Sang petani menjawab, "Pertama, aku akan menebangmu untuk memisahkan engkau dari rumpunmu yang indah itu. Lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat melukai orang yang memegangmu. Setelah itu aku akan membelah-belah engkau sesuai dengan keperluanku. Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, supaya air dapat mengalir dengan lancar.

Apabila aku sudah selesai dengan pekerjaanku, engkau akan menjadi pipa yang akan mengalirkan air untuk mengairi sawahku sehingga padi yang kutanam dapat tumbuh dengan subur."

Mendengar hal ini, batang bambu lama terdiam, kemudian dia berkata kepada petani, "Tuan, tentu aku akan merasa sangat sakit ketika engkau menebangku. Juga pasti akan sakit ketika engkau membuang cabang-cabangku, bahkan lebih sakit lagi ketika engkau membelah-belah batangku yang indah ini, dan pasti tak tertahankan ketika engkau mengorek-ngorek bagian dalam tubuhku untuk membuang sekat-sekat penghalang itu. Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu, Tuan?".

Petani menjawab batang bambu itu, " Wahai bambu, engkau pasti kuat melalui semua itu, karena aku memilihmu justru karena engkau yang paling kuat dari semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah."Akhirnya batang bambu itu menyerah, 

"Baiklah, Tuan. Aku ingin sekali berguna bagimu. Ini aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang kau kehendaki."Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang bambu indah yang dulu hanya menjadi penghias halaman rumah petani, kini telah berubah menjadi pipa saluran air yang mengairi sawahnya sehingga padi dapat tumbuh dengan subur dan berbuah banyak.

Pernahkah kita berpikir bahwa dengan masalah yang datang silih berganti tak habis-habisnya, mungkin Allah sedang memproses kita untuk menjadi indah di hadapan-Nya? Sama seperti batang bambu itu, kita sedang ditempa, Allah sedang membuat kita sempurna untuk di pakai menjadi penyalur berkat.

 Dia sedang membuang kesombongan dan segala sifat kita yang tak berkenan bagi-Nya. Tapi jangan kuatir, kita pasti kuat karena Allah tak akan memberikan beban yang tak mampu kita pikul. Jadi maukah kita berserah pada kehendak Allah, membiarkan Dia bebas berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna bagi-Nya?...
          
Seperti batang bambu itu, mari kita berkata, " Ini aku Ya Allah, perbuatlah sesuai dengan yang Kau kehendak".

entry ke-7 Akur dengan dugaanNYA..